Cintaku Hanya Untuk…

August 12th, 2007 by dimas-al

Wah judul yang bisa jadi kontroversial nih, kayak artis aja. Yupz,
cinta… Pasti memakai hati kalo bicara tentang hal yang satu ini. Lima
huruf itu yang bisa membuat seorang ikhwan atau pun akhwat
menggelepar-gelepar tak tertahankan. Apalagi kalau tidak bisa
disalurkan pada tempat yang semestinya. Bisa membuat pusing tujuh puluh
keliling kalo dipendam sendiri. Atau bisa menghasilkan rindu yang tidak
tertahankan bila terlalu jauh jarak…

Ups..!! STOP..!! Ntar dulu… Ini kita lagi membicarakan cinta yang mana?
Yang level Halal… Yang level menengah… Atau bahkan yang level hina…
Mari kita jabarkan satu persatu.

Cinta yang halal dan tertinggi jelas-jelas hanya untuk Allah dan
Rosulnya, tiada yang lain. Kecintaan yang begitu mendalam dari seorang
hamba terhadap Robb-nya akan menghasilkan sebuah energi yang sangat
dahsyat yang berimbas pada meningkatnya kualitas keimanannya. Cinta
tersebut akan menghasilkan jiwa-jiwa yang pantang menyerah dan rela
berkorban. Allah mencintai hambanya yang mencintainya. Allah dekat
dengan hambanya yang senantiasa berusaha dekat dengannya. Cinta
tersebut akan menimbulkan kesadaran dalam diri hambanya bahwa hidup ini
hanyalah untuk mencintai dan merefleksikan cintanya kepada-Nya dengan
bentuk ibadah.

Cinta yang level menengah adalah mencintai keluarga, saudara seiman,
dan sesama makhluk hidup. Keluarga adalah orang-orang yang terdekat
dengan kita, tempat kita pertama kali bertemu dan berkumpul. Ibu dan
Ayah merupakan orang-orang yang sangat berjasa dalam kehidupan kita.
Ada seorang sahabat bertanya kepada Rosululloh SAW; “Siapakah orang
yang harus aku hormati setelah Allah dan Engkau ya Rosul?” lalu Rosul
menjawab “Ibumu” sampai tiga kali, lalu setelah itu Rosul menjawab
“Ayahmu”. Dengan adanya hadits ini jelaslah bahwa berbakti kepada orang
tua adalah suatu keharusan. Menuruti perintahnya atau bahkan tidak
mengatakan “Ah..!!” ketika kita disuruh. Menjaga perasaan keduanya
seperti kita tidak ingin ada seseorang yang menyakiti hati kita.
Sungguh-sungguh tidak ada yang bisa kita perbuat untuk membalas jasa
mereka, yang kita bisa lakukan terbaik adalah berbakti kepada mereka
dengan sepenuh hati. Memperlakukan mereka seperti yang Allah dan Rosul
perintahkan.

Cinta yang ketiga adalah cinta yang hina. Kenapa bisa dikatakan hina
dan rendah, karena cinta ini menyebabkan kita lupa akan Allah dan
membuat kita melanggar aturan-aturan yang telah Allah tetapkan. Banyak
sekali contoh yang bisa kita dapatkan dari kehidupan sekarang. Salah
satunya adalah cinta kepada lawan jenis yang tidak tertahankan. Mungkin
kalau lingkupnya adalah masyarakat muda-mudi di Indonesia dan dunia
sudah bisa kita lihat dengan jelas dan tidak perlu lagi ada penjelasan
disini. Yang ingin saya tekankan disini adalah beberapa kasus yang
menimpa aktivis-aktivis yang dulunya memiliki tingkat militansi dan
penjagaan hijab yang tinggi, namun sekarang mengendur dan mencair
bahkan bercampur.

Fenomena di lapangan banyak ikhwah yang lepas kendali maupun
tarbiyahnya hanya karena masalah yang sebenarnya mereka sudah fahami
bahwa hal ini TIDAK BOLEH. Mengendurkan hijab hanya karena takut
semakin bertambahnya umur namun belum jua mendapatkan jodoh. Atau
berusaha memberikan SINYAL-SINYAL kepada lawan jenis dengan maksud
untuk dilihat dan dipertimbangkan kehadirannya. Kenapa bisa begini???
Setelah keluar kampus malah menjadi seseorang yang ahli sms romantis,
ahli telepon berdalih da’wah, atau bahkan ahli berlama-lama bersolek
diri.

Kawan, sudah saatnya dan bahkan sudah seharusnya kita selalu berbenah
diri. Allah telah menjanjikan bahwa wanita yang baik akan mendapatkan
lelaki yang baik pula, begitupun sebaiknya. Namun percayakah kita akan
janji Allah tersebut? Sudah Khusnudzonkah kita kepada Allah? Tidak
perlu dijawab dengan untaian kata-kata, tunjukkan dengan sikap dan
perbuatanmu.
Wallohua’lam bishowab… (DAI)

.:.:.Setiap Masalah Pasti Ada Jalan Keluarnya.:.:.
-Dalam Gelapnya Malam Kita Bisa Melihat Indahnya Bintang-

Kami Bukan Teroris

August 12th, 2007 by dimas-al

Sesak hati ini. Persepsi itu sudah menjamuri sebagian besar kepala masyarakat indonesia bahkan dunia saat ini. berislam dengan Khaaffah saat
ini sudah merupakan barang yang terkadang dianggap aneh. Media massa
yang “konvensional” segaja membesar-besarkan bahkan terang-terangan
melebih-lebihkan berita. padahal mereka juga beragama Islam, agama yang
seharusnya mereka bela dengan sepenuh hati. Media–yang disesaki oleh
orang-orang konvensional–sekarang sudah terbiasa menyajikan
berita-berita tetang teroris-teroris yang meresahkan masyarakat. kalau
memang disajikan berdasarkan fakta dilapangan ya memang sewajarnya dan
memang sudah seharusnya. namun pada kenyataannya berita-berita tersebut
kadang terkesan menyudutkan umat Islam.

Memangnya ada yang salah kalau kami berjenggot semata-mata mengikuti
sunnah Rosulullah SAW. Padahal banyak dibelahan dunia sana yang
berjenggot menjadi rahib namun tak pernah tersentuh hujatan. Memangnya
ada yang aneh kalau akhwat-akhwat kami menjulurkan jilbab yang lebar
menutupi dada dalam rangka menjalankan perintah langsung dari Yang Maha
Kuasa. Padahal para biarawati menggunakannya juga namun tidak pernah
ada yang memprotes keras.

Berusaha berislam dengan baik kadang senantiasa dianggap fanatisme pada sebuah golongan atau partai. Padahal itu semua hanyalah wajihah (sarana)
kami dalam menggapai ridhoNya. Ada pengalaman seorang pemuda yang dulu
bergelimang dosa dan sekarang sudah menjadi aktivis da’wah setelah
mengenal tarbiyah. tanggapan dari teman-teman semasa “jahiliyah” dulu
sangat tidak mengenakkan hatinya. Mereka masih saja mempermasalahkan
jenggot=teroris. Masalah isi kepala yang konvensional.

Bisa kita lihat dari hal-hal tersebut bahwa PR kita masih banyak,
sedangkan waktu yang tersedia sangat terbatas. Masih bisakah kita tidur
nyenyak padahal ada saudara-saudara kita dibelahan dunia sana yang
tidak bisa tidur karena diselimuti ketakutan. Setujukah kita dengan apa
yang dikatakan The guardian (surat kabar inggris) yang menulis bahwa Bush mengatakan “Terorisme
(Islam)” sebagai ancaman, dengan apa yang dilakukan Hitler yang
menyatakan komunis sebagai ancaman bagi keamanan bangsanya.

Masih bisakah lidah kita berkata-kata? Tegaskan bahwa “Kami Bukan Teroris”. (DAI)

Suarakan..!! Kerjakan..!!

May 26th, 2007 by dimas-al

Dari Abu Zaid Usamah bin Zaid bin Harritsah ra. berkata, "Saya
mendengar Rasulullah saw. bersabda, "Nanti pada hari Kiamat ada
seseorang didatangkan kemudian dilemparkan ke dalam neraka maka
keluarlah usus perutnya dan berputar-putar dalam neraka sebagaimana
berputarnya keledai yang sedang berada dalam penggilingannya, lantas,
para
penghuni neraka berkumpul seraya berkata, "Wahai Fulan, kenapa
kamu seperti itu? Bukankah kamu dulu menyuruhku untuk berbuat baik
dan melarang dari perbuatan mungkar?". Ia menjawab, "Benar, saya dulu
menyuruh untuk berbuat baik tetapi saya sendiri tidak mengerjakannya;
dan saya melarang dari perbuatan mungkar tetapi saya sendiri malah
melakukannya" . (Riwayat Bukhari dan Muslim).

TopengPertama kali mendengar hadits diatas bergetar hati saya dan rasa takut muncul. Spontan mengucap Inni akhofulloh… Ya Robb sesungguhnya aku sangat takut denganmu. Sangat tragis sekali apabila ada seorang da’i yg berda’wah menyeru pada yang ma’ruf dan mencegah pada yang mungkar tapi ia tidak mengerjakannya. Na’udzubillahi min dzalik.

Smoga kita termasuk orang-orang yang aktif menyuarakan kebenaran dan mencegah kebatilan dan yang pasti tidak sekedar menyerukan saja tapi juga komitmen untuk menjalankannya. Lidah lebih tajam dari pedang sekalipun. Bisa menusuk siapa saja yang ingin dikehendaki bahkan pemiliknya sendiri.

(DAI)
.:.Lidahmu pedangmu.:.

Cintaku Hanya Untuk…

April 29th, 2007 by dimas-al

Wah judul yang bisa jadi kontroversial nih, kayak artis aja.
Yupz, cinta… Pasti memakai hati kalo bicara tentang hal yang satu ini. Lima huruf itu yang bisa
membuat seorang ikhwan atau pun akhwat menggelepar-gelepar tak tertahankan.
Apalagi kalau tidak bisa disalurkan pada tempat yang semestinya. Bisa membuat
pusing tujuh puluh keliling bisa dipendam sendiri. Bisa menghasilkan rindu yang
tidak tertahankan bila terlalu jauh jarak…

Ups..!! STOP..!! Ntar dulu… Ini kita lagi membicarakan cinta yang mana? Yang
level Halal… Yang level menengah… Atau bahkan yang level hina… Mari kita
jabarkan satu persatu.


Cinta yang halal dan tertinggi jelas-jelas hanya untuk Allah dan Rosulnya,
tiada yang lain. Kecintaan yang begitu mendalam dari seorang hamba terhadap
Robb-nya akan menghasilkan sebuah energi yang sangat dahsyat yang berimbas pada
meningkatnya kualitas keimanannya. Cinta tersebut akan menghasilkan jiwa-jiwa
yang pantang menyerah dan rela berkorban. Allah mencintai hambanya yang
mencintainya. Allah dekat dengan hambanya yang senantiasa berusaha dekat
dengannya. Cinta tersebut akan menimbulkan kesadaran dalam diri hambanya bahwa
hidup ini hanyalah untuk mencintai dan merefleksikan cintanya kepada-Nya dengan
bentuk ibadah.

Cinta yang level menengah adalah mencintai keluarga, saudara seiman, dan sesama
makhluk hidup. Keluarga adalah orang-orang yang terdekat dengan kita, tempat
kita pertama kali bertemu dan berkumpul. Ibu dan Ayah merupakan orang-orang
yang sangat berjasa dalam kehidupan kita. Ada seorang sahabat bertanya kepada Rosululloh SAW; "Siapakah orang yang harus
aku hormati setelah Allah dan Engkau ya Rosul?" lalu Rosul menjawab
"Ibumu" sampai tiga kali, lalu setelah itu Rosul menjawab
"Ayahmu". Dengan adanya hadits ini jelaslah bahwa berbakti kepada
orang tua adalah suatu keharusan. Menuruti perintahnya atau bahkan tidak
mengatakan "Ah..!!" ketika kita disuruh. Menjaga perasaan keduanya
seperti kita tidak ingin ada seseorang yang menyakiti hati kita.
Sungguh-sungguh tidak ada yang bisa kita perbuat untuk membalas jasa mereka,
yang kita bisa lakukan terbaik adalah berbakti kepada mereka dengan sepenuh
hati. Memperlakukan mereka seperti yang Allah dan Rosul perintahkan.

Cinta yang ketiga adalah cinta yang hina. Kenapa bisa dikatakan hina dan
rendah, karena cinta ini menyebabkan kita lupa akan Allah dan membuat kita
melanggar aturan-aturan yang telah Allah tetapkan. Banyak sekali contoh yang
bisa kita dapatkan dari kehidupan sekarang. Salah satunya adalah cinta kepada
lawan jenis yang tidak tertahankan. Mungkin kalau lingkupnya adalah masyarakat
muda-mudi di Indonesia dan dunia sudah bisa kita lihat dengan jelas dan tidak
perlu lagi ada penjelasan disini. Yang ingin saya tekankan disini adalah
beberapa kasus yang menimpa aktivis-aktivis yang dulunya memiliki tingkat
militansi dan penjagaan hijab yang tinggi, namun sekarang mengendur dan mencair
bahkan bercampur.

Fenomena di lapangan banyak ikhwah yang lepas kendali maupun tarbiyahnya hanya
karena masalah yang sebenarnya mereka sudah fahami bahwa hal ini TIDAK BOLEH.
Mengendurkan hijab hanya karena takut semakin bertambahnya umur namun belum jua
mendapatkan jodoh. Atau berusaha memberikan SINYAL-SINYAL kepada lawan jenis
dengan maksud untuk dilihat dan dipertimbangkan kehadirannya. Kenapa bisa
begini? Setelah keluar kampus malah menjadi seseorang yang ahli sms romantis,
ahli telepon berdalih da’wah, atau bahkan ahli berlama-lama bersolek diri.

Kawan, sudah saatnya dan bahkan sudah seharusnya kita selalu berbenah diri.
Allah telah menjanjikan bahwa wanita yang baik akan mendapatkan lelaki yang
baik pula, begitupun sebaiknya. Namun percayakah kita akan janji Allah
tersebut? Sudah Khusnudzonkah kita kepada Allah? Tidak perlu dijawab dengan
untaian kata-kata, tunjukkan dengan sikap dan perbuatanmu.
Wallohua’lam bishowab…(DAI)

.:.:.Setiap Masalah Pasti Ada Jalan Keluarnya.:.:.
-Dalam Gelapnya Malam Kita Bisa Melihat Indahnya Bintang-

Ku Kan Pergi Jauh

April 9th, 2007 by dimas-al

Pergi jauh dari hingar bingar Jakarta menuju iklim yang lebih segar adalah salah satu dari sekian banyak keinginanku. Mencoba lahan da’wah baru dengan tantangan baru juga merupakan keinginan hati ini. Tampaknya tidak lama lagi keinginan ini akan terwujud (insya Alloh).

Tapi dibalik itu semua tidak ada sedikitpun terbesit maksud untuk meninggalkan semua amanah di Jakarta. Amanah ini akan ku delegasikan ke beberapa teman, pastilah teman2 ku bisa menjalankannya. Karena kalau seorang dimas saja bisa memanggulnya pastilah masih sangat banyak dimas dimas yang lain yang bisa memanggulnya. Karena sesungguhnya bukan Islam yang memerlukan kita, kita lah yang memerlukan Islam. Allah sudah berjanji mengganti generasi yang lama dengan generasi lainnya. Islam pasti tetap melaju, da’wah harus terus berjalan.

Belum keluar juga keputusan dari BSM dimana diri ini akan ditempatkan. Seperti yang telah di ikrarkan di awal bahwa aku siap untuk ditempatkan dimanapun utk membawa sistem da’wah dalam bidang ekonomi ini. Tanggal 23 April insya Alloh keputusan itu akan keluar, serta merta diri ini melalang buana. Smoga Allah selalu bersama, karena ku yakin aku akan terus bersama-Nya.

Beberapa rencana sudah kusiapkan untuk menghadapi penempatan ini, termasuk salah satu ikhtiar untuk masa depanku. Smoga saja berjalan dengan baik.

Inni akhofulloh (sesungguhnya aku sangat takut dengan-Mu ya Robb).
-al Ichsan-

Cermin Diri

December 23rd, 2006 by dimas-al

Api_lapindo Pada suatu masa, ada seorang pria kaya raya berpesan kepada pembantunya, "Aku akan pergi ke luar negeri selama setahun untuk urusan bisnis. Selama aku pergi aku minta kau membangun sebuah rumah. Pilihlah bentuk dan desainnya sesuai kehendakmu. Besar atau kecil terserah kau. Ini aku kasih uang untuk membeli bahan bangunan, ongkos kerja tukang, serta gajimu selama membangun rumah tersebut."

Seminggu kemudian berangkatlah sang majikan ke luar negeri. Alangkah senangnya si pembantu mendapat proyek basah. Seumur-umur ia belum pernah mengelola uang sebanyak ini. Otak liciknya segera berputar. Selama mengerjakan tugas, si pembantu menggelapkan nilai proyek. Caranya, mark-up sana, sunat sini. Ia memakai bahan-bahan bangunan yang sepintas terlihat bagus padahal kualitasnya jelek. "Toh nantinya pada saat rumah ini mulai rusak, saya pasti tak lagi bekerja disini" begitu pikirnya.

Setahun kemudian sang majikan pulang. Ia menanyakan rumah baru tersebut.

"Beres Tuan! Segala sesuatunya berjalan sesuai rencana. Rumah sudah siap ditempati," kata si pembantu dengan bangga.

"Baik. Nah, apakah kamu sendiri merasa puas sengan hasil karyamu?" sang majikan bertanya.

"Oh, ya tentu saja Tuan," jawab si pembantu.

"Baik, kalau begitu," jawab sang majikan, "Ketahuilah, aku menyuruh kau membangun rumah ini adalah untuk kenang-kenangan sekaligus penghargaan atas pengabdianmu bekerja disini bertahun-tahun."

Mendengar ucapan sang majikan, kagetlah si pembantu. Perasaannya campur aduk. Ia merasa sangat malu dan cemas. Betapa tidak? Ia telah menghambur-hamburkan uang hasil korupsinya. Kini justru ia harus bertanggung jawab atas rumah yang selamanya akan mengingatkannya pada tindak korupsi yang mencoreng integritas dan pribadinya.

Cara terbaik untuk menentukan jenis karakter seseorang adalah dengan memberi kesempatan mereka menunjukkan tingkah laku mental dan moralnya saat mereka merasa sangat aktif dan benar-benar menikmati hidup. Karena pada saat itu pasti ada suara di dalam hati kecilnya yang mengatakan, "Inilah saya yang sebenarnya…"

-Dimas Al Ichsan-

        (DAI)

Pelajaran Berharga

December 23rd, 2006 by dimas-al

Beberapa hari yang lalu saya membuka-buka folder dalam flash disc saya. Niatnya ingin membereskan file-file yang sudah bertumpuk dan membuang yang sudah tidak terpakai. Satu persatu file saya buka dan saya baca. Setelah lama membuka-buka file saya menemukan file yang belum pernah saya baca sebelumnya. Dalam file tersebut tertulis Friday, June 25, 2004 jam 5.06AM. Entah saya yang pelupa atau file tersebut ada orang lain yang memasukkan, tapi yang pasti pada tanggal tersebut saya belum memiliki flash disc tersebut. Terima kasih untuk orang yang memasukkan file tersebut ke dalam flash disc saya. Semoga cerita ini bisa bermanfaat apabila saya tidak membacanya sendirian. Sedikit saya edit dan memasukkannya kedalam kondisi dan kebutuhan da’wah. Berikut ini adalah isi file tersebut.

1. Pelajaran Penting ke-1

Pada bulan ke-2 diawal kuliah saya, seorang Profesor memberikan quiz mendadak pada kami. Karena kebetulan cukup menyimak semua kuliah-kuliahnya, saya cukup cepat menyelesaikan soal-soal quiz, sampai pada soal yang terakhir. Isi Soal terakhir ini adalah: "Siapa nama depan wanita yang menjadi petugas pembersih sekolah?" Saya yakin soal ini cuma "bercanda". Saya sering melihat perempuan ini. Tinggi, berambut gelap dan berusia sekitar 50-an, tapi bagaimana saya tahu nama depannya…?

Saya kumpulkan saja kertas ujian saya, tentu saja dengan jawaban soal terakhir kosong. Sebelum kelas usai, seorang rekan bertanya pada Profesor itu, mengenai soal terakhir akan "dihitung" atau tidak. "Tentu Saja Dihitung !!" kata si Profesor. "Pada perjalanan karirmu, kamu akan ketemu banyak orang. Semuanya penting!!! Semua harus kamu perhatikan dan pelihara, walaupun itu cuma dengan sepotong senyuman, atau sekilas "hallo"! Saya selalu ingat pelajaran itu. Saya kemudian tahu, bahwa nama depan ibu pembersih sekolah adalah "Dorothy".

.:. Pada cerita ini kita bisa menyadari bahwa da’wah kita ini haruslah menyeluruh dan masuk keberbagai tingkatan elemen kampus. Kadang kita memandang ada beberapa orang yang tidak penting untuk diperhatikan. Tetapi percayalah kita memerlukan mereka suatu saat nanti untuk penyokong da’wah ini.

2. Pelajaran Penting ke-2

Malam itu, pukul setengah dua belas malam. Seorang wanita negro rapi yang sudah berumur, sedang berdiri di tepi jalan tol

Alabama

. Ia nampak mencoba bertahan dalam hujan yang sangat deras, yang hampir seperti badai. Mobilnya kelihatannya lagi rusak, dan perempuan ini sangat ingin menumpang mobil. Dalam keadaan basah kuyup, ia mencoba menghentikan setiap mobil yang lewat. Mobil berikutnya dikendarai oleh seorang pemuda bule, dia berhenti untuk menolong ibu ini. Kelihatannya si bule ini tidak paham akan konflik etnis tahun 1960-an, yaitu pada saat itu. Pemuda ini akhirnya membawa si ibu negro selamat hingga suatu tempat, untuk mendapatkan pertolongan, lalu mencarikan si ibu ini taksi. Walaupun terlihat sangat tergesa-gesa, si ibu tadi bertanya tentang alamat si pemuda itu, menulisnya, lalu mengucapkan terima kasih pada si pemuda. Tujuh hari berlalu, dan tiba-tiba pintu rumah pemuda bule ini diketuk Seseorang. Kejutan baginya, karena yang datang ternyata kiriman sebuah televisi set besar berwarna (1960an!) khusus dikirim ke rumahnya. Terselip

surat

kecil tertempel di televisi, yang isinya adalah "Terima kasih nak, karena membantuku di jalan Tol malam itu. Hujan tidak hanya membasahi bajuku, tetapi juga jiwaku. Untung saja anda datang dan menolong saya. Karena pertolongan anda, saya masih sempat untuk hadir disisi suamiku yang sedang sekarat.. hingga wafatnya. Tuhan memberkati anda,karena membantu saya dan tidak mementingkan dirimu pada saat itu"

- Tertanda Ny. Nat King Cole.

*) Catatan : Nat King Cole, adalah penyanyi negro tenar tahun 60an di

USA

,

.:. Memberi pertolongan tanpa harus memikirkan perbedaan ras, agama, warna kulit, dan golongan. Hal tersebut harus kita pelihara dalam kehidupan da�wah kampus, karena hal tersebut pasti akan membawa keuntungan yang tak terduga.

3. Pelajaran penting ke-3

Selalulah perhatikan dan ingat, pada semua yang anda layani. Di zaman eskrim khusus (ice cream sundae) masih murah, seorang anak laki-laki umur 10-an tahun masuk ke Coffee Shop Hotel, & duduk di meja. Seorang pelayan wanita menghampiri dan memberikan air putih dihadapannya. Anak ini kemudian bertanya "Berapa ya,… harga satu ice cream sundae?" Katanya, "50 sen…" balas si pelayan. Si anak kemudian mengeluarkan isi sakunya & menghitung serta mempelajari koin-koin di kantongnya….

"Wah… Kalau ice cream yang biasa saja berapa?" katanya lagi. Tetapi kali ini orang-orang yang duduk di meja-meja lain sudah mulai banyak.., dan pelayan ini mulai tidak sabar. "35 sen" kata si pelayan sambil uring-uringan. Anak ini mulai menghitungi dan mempelajari lagi koin-koin yang tadi dikantongnya. "Bu… saya pesan yang ice cream biasa saja ya…" ujarnya. Sang pelayan kemudian membawa ice cream tersebut, meletakkan kertas kuitansi di atas meja dan terus melengos berjalan. Si anak ini kemudian makan ice-cream, bayar di kasir, dan pergi. Ketika si Pelayan wanita ini kembali untuk membersihkan meja si anak kecil tadi, dia mulai menangis terharu. Rapi tersusun disamping piring kecilnya yang kosong, ada 2 buah koin 10-sen & 5 buah koin 1-sen. Anda bisa lihat…anak kecil ini tidak bisa pesan Ice-cream Sundae, karena tidak memiliki cukup uang untuk memberi sang pelayan uang tip yang "layak".

.:. Sering meremehkan orang yang dibawah (junior) atau staf anggota departemen dalam kepengurusan mungkin adalah hal yang sering terjadi dalam kehidupan berorganisasi. Sudut pandang kita mungkin berbeda dengan pandangan junior atau staf kita. Tapi percayalah perbedaan sudut pandang tersebut apabila bisa dimanfaatkan dan dikelola dengan baik insya Alloh bisa menjadi suatu kekuatan besar untuk da’wah ini.

4. Pelajaran penting ke-4 - Penghalang di Jalan Kita

Zaman dahulu kala, tersebutlah seorang Raja, yang menempatkan sebuah batu besar di tengah jalan. Raja tersebut kemudian bersembunyi, untuk melihat apakah ada yang mau menyingkirkan batu itu dari jalan. Beberapa pedagang terkaya yang menjadi rekanan raja tiba ditempat, untuk berjalan melingkari batu besar tersebut. Banyak juga yang datang, kemudian memaki-maki sang Raja, karena tidak membersihkan jalan dari rintangan. Tetapi tidak ada satupun yang mau melancarkan jalan dengan menyingkirkan batu itu.

Kemudian datanglah seorang petani, yang menggendong banyak sekali sayur mayur. Ketika semakin dekat, petani ini kemudian meletakkan dahulu bebannya, dan mencoba memindahkan batu itu kepinggir jalan. Setelah banyak mendorong dan mendorong, akhirnya ia berhasil menyingkirkan batu besar itu. Ketika si petani ingin mengangkat kembali sayurnya, ternyata ditempat batu tadi ada kantung yg berisi banyak uang emas dan surat Raja. Surat yang mengatakan bahwa emas ini hanya untuk orang yang mau menyingkirkan batu tersebut dari jalan.

Petani ini kemudian belajar, satu pelajaran yang kita tidak pernah bisa mengerti. Bahwa dalam setiap rintangan, tersembunyi kesempatan yg bisa dipakai untuk memperbaiki hidup kita.

5. Pelajaran penting ke-5 - Memberi, ketika dibutuhkan

Waktu itu, ketika saya masih seorang sukarelawan yang bekerja di sebuah rumah sakit, saya berkenalan dengan seorang gadis kecil yang bernama Liz, seorang penderita satu penyakit serius yang sangat jarang. Kesempatan sembuh, hanya ada pada adiknya, seorang pria kecil yang berumur 5 tahun, yang secara mujizat sembuh dari penyakit yang sama. Anak ini memiliki antibodi yang diperlukan untuk melawan penyakit itu.

Dokter kemudian mencoba menerangkan situasi lengkap medikal tersebut ke anak kecil ini, dan bertanya apakah ia siap memberikan darahnya kepada kakak perempuannya. Saya melihat si kecil itu ragu-ragu sebentar, sebelum mengambil nafas panjang dan berkata "Baiklah… Saya akan melakukan hal tersebut…. asalkan itu bisa menyelamatkan kakakku". Selama mengikuti proses tranfusi darah, si kecil ini berbaring di tempat tidur, disamping kakaknya. Wajah sang kakak mulai memerah, tetapi Wajah si kecil mulai pucat dan senyumnya menghilang. Si kecil melihat ke dokter itu, dan bertanya dalam suara yang bergetar…katanya "Apakah saya akan langsung mati dokter… ?" Rupanya si kecil sedikit salah pengertian. Ia merasa, bahwa ia harus menyerahkan semua darahnya untuk menyelamatkan jiwa kakaknya.

Lihatlah…bukankah pengertian dan sikap adalah hal yang manis…. ?

Wallohua’lam bishowab…

DALAM GELAPNYA MALAM, KITA JUSTRU DAPAT MELIHAT INDAHNYA BINTANG.

-Dimas Al Ichsan-

          )l(

Alhamdulillah akhirnya…

November 22nd, 2006 by dimas-al

BsmAlhamdulillah setelah sekian lama melewati berbagai macam tes akhirnya jebol juga jadi Management Trainee Bank Syariah Mandiri. Akhirnya juga bisa keluar dari pekerjaan berat dan "makan hati" sebagai Internal Audit di PT SHARP.

Bekerja di Bank Syariah adalah salah satu cita-citaku sedari kuliah dulu. Banyak alasan yang mendasari keinginan untuk berkiprah-beribadah sambil bekerja di unit syariah. Sewaktu wawancara dengan psikolog dan HRD pertanyaan semacam itu sering ditanyakan. "Mengapa kamu berminat bekerja di BSM?" Jawabannya simple namun saya breakdown menjadi beberapa point penting yang lebih didasarkan pada hidup saya.

Alasan berminat bekerja di Bank Syariah:

1. Karena Riba dilarang oleh Islam

2. Karena unit-unit usaha syariah memang sedang berkembang pesat

3. Menyukai mata kuliah syariah sewaktu kuliah dulu

4. Kondisi kerja yang ramah dan Islami

5. Mencari pengalaman kerja

6. Mencari penghasilan

Kok mencari penghasilan ditaro di urutan terakhir?? Yup karena menurut saya penghasilan adalah output dari segala doa dan ikhtiar kita. Yakin kalo niat dan cara sudah lurus insya Allah rejeki pun tidak kemana. Innalloha ma’ana. Amiin…

Alhamdulillah… AllohuAkbar..!!

Wah, jadi kaku nih…

October 1st, 2006 by dimas-al

Asslm…

Hai BLOGS, ktemu lagi setelah sekian lama tak menulis. Wah jadi kaku nih en bingung mo nulis apa. Even my own diary pun udah jarang di update.

Banyak bgt fenomena akhir2 ini yang menyita waktu pribadi ini, but its OK as long as I still commit in this track. What track? U must be know lah.

Tunggu saja aksi berikutnya..!!

Kerja yuk… (tapi nyari dulu)

July 6th, 2006 by dimas-al

P7050465 Kerja.. kerja..!! wah dunia yang satu ini adalah dunia yang belum pernah kusentuh sebelumnya. Walau sebelumnya saya pernah mengajar sebagai assdos dan guru lepas di SD, tetap saja itu bukan tolak ukur to get in to the Real World. Wuah serem juga yach…

Rasulullah juga bekerja untuk mencari nafkah, bahkan dari umur yg sangat belia. Beliau berdagang dan menjadi pedagang yang lumayan disegani karena kejujuran dan keuletannya. Patut dicontoh, dan memang harus dicontoh. Ingin rasanya turut seperti itu, bedagang or berbisnis. Hmm… modalnya dari mana ya? Ya harus kerja dulu di perusahaan menurut ku. Bukan begitu betul?

Alhamdulillah hari ini sudah ada panggilan untuk psikotes di BANK MUAMALAT dengan menggunakan outsourcing PT MUTUAL+. Seharian ini juga hp ku berdering, tercatat setidaknya ada 3 perusahaan lain yang memanggilku untuk interview maupun tes lainnya. Perusahaan itu diantaranya PT SURVEYOR INDONESIA, PT GRAHA FINESA, dan PT MONEX INVESTINDO. Untuk perusahaan yang terakhir cukup membuat saya heran. Kenapa heran? Karena saya tidak merasa melamar ke perusahaan tersebut, tau-tau sudah dipanggil utk interview besok. Sempat terpikir perusahaan itu hanya perusahaan fiktif, tapi setelah di tabayun melalui internet perusahaan itu tergolong lumayan bagus dan bergerak di bidang investasi. Ambil tidak ya..?

Sempat bingung juga medapat panggilan yang begitu cepat, padahal saya hanya melamar melalui internet dalam waktu semalam dan sekedar menyebar-nyebar CV. Saya pun tidak ingat kemana saja CV saya sudah melayang. Alhamdulillah, smoga ini pertanda baik dari ALlah…

Kebingungan yang kedua adalah masalah jadwal. Jadwal da’wah ini masih sangat padat untuk 2 bulan kedepan. Sudah banyak planning yang terlontar kedepannya. Wah, tampaknya harus membuat plan B nih. Plan kalau-kalau diterima kerja namun agenda da’wah harus tetap berjalan mulus. Yup..!! ayo buat Planning baru. Konsep lagi… konsep lagi…