Cintaku Hanya Untuk…
Sunday, April 29th, 2007Wah judul yang bisa jadi kontroversial nih, kayak artis aja.
Yupz, cinta… Pasti memakai hati kalo bicara tentang hal yang satu ini. Lima huruf itu yang bisa
membuat seorang ikhwan atau pun akhwat menggelepar-gelepar tak tertahankan.
Apalagi kalau tidak bisa disalurkan pada tempat yang semestinya. Bisa membuat
pusing tujuh puluh keliling bisa dipendam sendiri. Bisa menghasilkan rindu yang
tidak tertahankan bila terlalu jauh jarak…
Ups..!! STOP..!! Ntar dulu… Ini kita lagi membicarakan cinta yang mana? Yang
level Halal… Yang level menengah… Atau bahkan yang level hina… Mari kita
jabarkan satu persatu.
Cinta yang halal dan tertinggi jelas-jelas hanya untuk Allah dan Rosulnya,
tiada yang lain. Kecintaan yang begitu mendalam dari seorang hamba terhadap
Robb-nya akan menghasilkan sebuah energi yang sangat dahsyat yang berimbas pada
meningkatnya kualitas keimanannya. Cinta tersebut akan menghasilkan jiwa-jiwa
yang pantang menyerah dan rela berkorban. Allah mencintai hambanya yang
mencintainya. Allah dekat dengan hambanya yang senantiasa berusaha dekat
dengannya. Cinta tersebut akan menimbulkan kesadaran dalam diri hambanya bahwa
hidup ini hanyalah untuk mencintai dan merefleksikan cintanya kepada-Nya dengan
bentuk ibadah.
Cinta yang level menengah adalah mencintai keluarga, saudara seiman, dan sesama
makhluk hidup. Keluarga adalah orang-orang yang terdekat dengan kita, tempat
kita pertama kali bertemu dan berkumpul. Ibu dan Ayah merupakan orang-orang
yang sangat berjasa dalam kehidupan kita. Ada seorang sahabat bertanya kepada Rosululloh SAW; "Siapakah orang yang harus
aku hormati setelah Allah dan Engkau ya Rosul?" lalu Rosul menjawab
"Ibumu" sampai tiga kali, lalu setelah itu Rosul menjawab
"Ayahmu". Dengan adanya hadits ini jelaslah bahwa berbakti kepada
orang tua adalah suatu keharusan. Menuruti perintahnya atau bahkan tidak
mengatakan "Ah..!!" ketika kita disuruh. Menjaga perasaan keduanya
seperti kita tidak ingin ada seseorang yang menyakiti hati kita.
Sungguh-sungguh tidak ada yang bisa kita perbuat untuk membalas jasa mereka,
yang kita bisa lakukan terbaik adalah berbakti kepada mereka dengan sepenuh
hati. Memperlakukan mereka seperti yang Allah dan Rosul perintahkan.
Cinta yang ketiga adalah cinta yang hina. Kenapa bisa dikatakan hina dan
rendah, karena cinta ini menyebabkan kita lupa akan Allah dan membuat kita
melanggar aturan-aturan yang telah Allah tetapkan. Banyak sekali contoh yang
bisa kita dapatkan dari kehidupan sekarang. Salah satunya adalah cinta kepada
lawan jenis yang tidak tertahankan. Mungkin kalau lingkupnya adalah masyarakat
muda-mudi di Indonesia dan dunia sudah bisa kita lihat dengan jelas dan tidak
perlu lagi ada penjelasan disini. Yang ingin saya tekankan disini adalah
beberapa kasus yang menimpa aktivis-aktivis yang dulunya memiliki tingkat
militansi dan penjagaan hijab yang tinggi, namun sekarang mengendur dan mencair
bahkan bercampur.
Fenomena di lapangan banyak ikhwah yang lepas kendali maupun tarbiyahnya hanya
karena masalah yang sebenarnya mereka sudah fahami bahwa hal ini TIDAK BOLEH.
Mengendurkan hijab hanya karena takut semakin bertambahnya umur namun belum jua
mendapatkan jodoh. Atau berusaha memberikan SINYAL-SINYAL kepada lawan jenis
dengan maksud untuk dilihat dan dipertimbangkan kehadirannya. Kenapa bisa
begini? Setelah keluar kampus malah menjadi seseorang yang ahli sms romantis,
ahli telepon berdalih da’wah, atau bahkan ahli berlama-lama bersolek diri.
Kawan, sudah saatnya dan bahkan sudah seharusnya kita selalu berbenah diri.
Allah telah menjanjikan bahwa wanita yang baik akan mendapatkan lelaki yang
baik pula, begitupun sebaiknya. Namun percayakah kita akan janji Allah
tersebut? Sudah Khusnudzonkah kita kepada Allah? Tidak perlu dijawab dengan
untaian kata-kata, tunjukkan dengan sikap dan perbuatanmu.
Wallohua’lam bishowab…(DAI)
.:.:.Setiap Masalah Pasti Ada Jalan Keluarnya.:.:.
-Dalam Gelapnya Malam Kita Bisa Melihat Indahnya Bintang-