Archive for August, 2007

Cintaku Hanya Untuk…

Sunday, August 12th, 2007

Wah judul yang bisa jadi kontroversial nih, kayak artis aja. Yupz,
cinta… Pasti memakai hati kalo bicara tentang hal yang satu ini. Lima
huruf itu yang bisa membuat seorang ikhwan atau pun akhwat
menggelepar-gelepar tak tertahankan. Apalagi kalau tidak bisa
disalurkan pada tempat yang semestinya. Bisa membuat pusing tujuh puluh
keliling kalo dipendam sendiri. Atau bisa menghasilkan rindu yang tidak
tertahankan bila terlalu jauh jarak…

Ups..!! STOP..!! Ntar dulu… Ini kita lagi membicarakan cinta yang mana?
Yang level Halal… Yang level menengah… Atau bahkan yang level hina…
Mari kita jabarkan satu persatu.

Cinta yang halal dan tertinggi jelas-jelas hanya untuk Allah dan
Rosulnya, tiada yang lain. Kecintaan yang begitu mendalam dari seorang
hamba terhadap Robb-nya akan menghasilkan sebuah energi yang sangat
dahsyat yang berimbas pada meningkatnya kualitas keimanannya. Cinta
tersebut akan menghasilkan jiwa-jiwa yang pantang menyerah dan rela
berkorban. Allah mencintai hambanya yang mencintainya. Allah dekat
dengan hambanya yang senantiasa berusaha dekat dengannya. Cinta
tersebut akan menimbulkan kesadaran dalam diri hambanya bahwa hidup ini
hanyalah untuk mencintai dan merefleksikan cintanya kepada-Nya dengan
bentuk ibadah.

Cinta yang level menengah adalah mencintai keluarga, saudara seiman,
dan sesama makhluk hidup. Keluarga adalah orang-orang yang terdekat
dengan kita, tempat kita pertama kali bertemu dan berkumpul. Ibu dan
Ayah merupakan orang-orang yang sangat berjasa dalam kehidupan kita.
Ada seorang sahabat bertanya kepada Rosululloh SAW; “Siapakah orang
yang harus aku hormati setelah Allah dan Engkau ya Rosul?” lalu Rosul
menjawab “Ibumu” sampai tiga kali, lalu setelah itu Rosul menjawab
“Ayahmu”. Dengan adanya hadits ini jelaslah bahwa berbakti kepada orang
tua adalah suatu keharusan. Menuruti perintahnya atau bahkan tidak
mengatakan “Ah..!!” ketika kita disuruh. Menjaga perasaan keduanya
seperti kita tidak ingin ada seseorang yang menyakiti hati kita.
Sungguh-sungguh tidak ada yang bisa kita perbuat untuk membalas jasa
mereka, yang kita bisa lakukan terbaik adalah berbakti kepada mereka
dengan sepenuh hati. Memperlakukan mereka seperti yang Allah dan Rosul
perintahkan.

Cinta yang ketiga adalah cinta yang hina. Kenapa bisa dikatakan hina
dan rendah, karena cinta ini menyebabkan kita lupa akan Allah dan
membuat kita melanggar aturan-aturan yang telah Allah tetapkan. Banyak
sekali contoh yang bisa kita dapatkan dari kehidupan sekarang. Salah
satunya adalah cinta kepada lawan jenis yang tidak tertahankan. Mungkin
kalau lingkupnya adalah masyarakat muda-mudi di Indonesia dan dunia
sudah bisa kita lihat dengan jelas dan tidak perlu lagi ada penjelasan
disini. Yang ingin saya tekankan disini adalah beberapa kasus yang
menimpa aktivis-aktivis yang dulunya memiliki tingkat militansi dan
penjagaan hijab yang tinggi, namun sekarang mengendur dan mencair
bahkan bercampur.

Fenomena di lapangan banyak ikhwah yang lepas kendali maupun
tarbiyahnya hanya karena masalah yang sebenarnya mereka sudah fahami
bahwa hal ini TIDAK BOLEH. Mengendurkan hijab hanya karena takut
semakin bertambahnya umur namun belum jua mendapatkan jodoh. Atau
berusaha memberikan SINYAL-SINYAL kepada lawan jenis dengan maksud
untuk dilihat dan dipertimbangkan kehadirannya. Kenapa bisa begini???
Setelah keluar kampus malah menjadi seseorang yang ahli sms romantis,
ahli telepon berdalih da’wah, atau bahkan ahli berlama-lama bersolek
diri.

Kawan, sudah saatnya dan bahkan sudah seharusnya kita selalu berbenah
diri. Allah telah menjanjikan bahwa wanita yang baik akan mendapatkan
lelaki yang baik pula, begitupun sebaiknya. Namun percayakah kita akan
janji Allah tersebut? Sudah Khusnudzonkah kita kepada Allah? Tidak
perlu dijawab dengan untaian kata-kata, tunjukkan dengan sikap dan
perbuatanmu.
Wallohua’lam bishowab… (DAI)

.:.:.Setiap Masalah Pasti Ada Jalan Keluarnya.:.:.
-Dalam Gelapnya Malam Kita Bisa Melihat Indahnya Bintang-

Kami Bukan Teroris

Sunday, August 12th, 2007

Sesak hati ini. Persepsi itu sudah menjamuri sebagian besar kepala masyarakat indonesia bahkan dunia saat ini. berislam dengan Khaaffah saat
ini sudah merupakan barang yang terkadang dianggap aneh. Media massa
yang “konvensional” segaja membesar-besarkan bahkan terang-terangan
melebih-lebihkan berita. padahal mereka juga beragama Islam, agama yang
seharusnya mereka bela dengan sepenuh hati. Media–yang disesaki oleh
orang-orang konvensional–sekarang sudah terbiasa menyajikan
berita-berita tetang teroris-teroris yang meresahkan masyarakat. kalau
memang disajikan berdasarkan fakta dilapangan ya memang sewajarnya dan
memang sudah seharusnya. namun pada kenyataannya berita-berita tersebut
kadang terkesan menyudutkan umat Islam.

Memangnya ada yang salah kalau kami berjenggot semata-mata mengikuti
sunnah Rosulullah SAW. Padahal banyak dibelahan dunia sana yang
berjenggot menjadi rahib namun tak pernah tersentuh hujatan. Memangnya
ada yang aneh kalau akhwat-akhwat kami menjulurkan jilbab yang lebar
menutupi dada dalam rangka menjalankan perintah langsung dari Yang Maha
Kuasa. Padahal para biarawati menggunakannya juga namun tidak pernah
ada yang memprotes keras.

Berusaha berislam dengan baik kadang senantiasa dianggap fanatisme pada sebuah golongan atau partai. Padahal itu semua hanyalah wajihah (sarana)
kami dalam menggapai ridhoNya. Ada pengalaman seorang pemuda yang dulu
bergelimang dosa dan sekarang sudah menjadi aktivis da’wah setelah
mengenal tarbiyah. tanggapan dari teman-teman semasa “jahiliyah” dulu
sangat tidak mengenakkan hatinya. Mereka masih saja mempermasalahkan
jenggot=teroris. Masalah isi kepala yang konvensional.

Bisa kita lihat dari hal-hal tersebut bahwa PR kita masih banyak,
sedangkan waktu yang tersedia sangat terbatas. Masih bisakah kita tidur
nyenyak padahal ada saudara-saudara kita dibelahan dunia sana yang
tidak bisa tidur karena diselimuti ketakutan. Setujukah kita dengan apa
yang dikatakan The guardian (surat kabar inggris) yang menulis bahwa Bush mengatakan “Terorisme
(Islam)” sebagai ancaman, dengan apa yang dilakukan Hitler yang
menyatakan komunis sebagai ancaman bagi keamanan bangsanya.

Masih bisakah lidah kita berkata-kata? Tegaskan bahwa “Kami Bukan Teroris”. (DAI)